Foto. Kepala SMPN 1 Kurun, Yono,S.Pd. (jendelakalteng/njh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
SMP Negeri 1 Kurun, Kabupaten Gunung Mas (Gumas), terus memperkuat kualitas pembelajaran dan prestasi akademik siswa di tengah sejumlah tantangan, mulai dari peningkatan kemampuan numerasi, keterbatasan perangkat teknologi hingga kekurangan tenaga pendidik.
Kepala SMPN 1 Kurun, Yono, mengungkapkan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (11/9/2026).Yono mengatakan, sekolah terus mengaktifkan kembali berbagai kegiatan pembelajaran sekaligus mendorong guru menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam.
“Strategi yang kita laksanakan tentu mengaktifkan kembali kegiatan anak-anak berupa pembelajaran yang semestinya. Kemudian Bapak/Ibu guru juga menerapkan pembelajaran mendalam, yang pada intinya adalah berkesadaran, bermakna dan menggembirakan,”ujar Yono.
Menurut Yono, penerapan pembelajaran mendalam tidak semudah menyampaikan konsepnya. Diperlukan kesiapan guru, peserta didik serta dukungan lingkungan pendidikan agar pendekatan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran.
“Walaupun dalam pelaksanaannya tidak semudah yang kita ucapkan. Tentu banyak tantangan yang harus diatasi bersama,”ucapnya.
Di sisi lain, Yono menegaskan bahwa kemampuan literasi dan numerasi menjadi perhatian penting sekolah, terlebih di tengah tuntutan pembelajaran yang semakin terintegrasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Yono menyebutkan, berdasarkan rapor mutu pendidikan tahun sebelumnya, capaian literasi SMPN 1 Kurun telah berada pada kategori tertinggi. Namun, kondisi berbeda terlihat pada aspek numerasi yang masih berada pada kategori oranye sehingga membutuhkan perhatian dan penguatan lebih serius.
“Kalau di literasi, seperti rapor mutu pendidikan kita tahun kemarin, itu mencapai capaian tertinggi di literasi. Hanya di numerasinya yang masih warna oranye,”jelas Yono.
Karena itu, Yono menyampaikan, peningkatan kemampuan numerasi menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diperjuangkan bersama. Penguatan tidak hanya menyangkut kemampuan berhitung, tapi juga bagaimana siswa mampu memahami, menganalisis dan menggunakan konsep matematika dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari.
Dari sisi sarana dan prasarana, Yono menilai secara umum fasilitas pembelajaran di SMPN 1 Kurun sudah cukup mendukung. Sejumlah ruang kelas telah dilengkapi LCD proyektor. Sekolah juga memperoleh satu unit TV interaktif dari pemerintah pusat serta memiliki perangkat laptop.
Namun, kebutuhan perangkat teknologi masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dengan jumlah siswa mencapai 776 orang, ketersediaan komputer di laboratorium sekolah dinilai masih jauh dari ideal.
“Di lab kita komputer yang bisa digunakan untuk anak-anak pembelajaran itu kurang lebih 30 unit saja. Jadi itu sangat kurang,”ungkap Yono.
Kesenjangan antara jumlah peserta didik dan ketersediaan perangkat tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong pembelajaran berbasis digital. Terlebih, menurut Yono, tidak semua guru juga memiliki laptop pribadi untuk menunjang proses pembelajaran.
Karena itu, dukungan terhadap digitalisasi pendidikan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak yang diharapkan dapat diperhatikan pemerintah daerah.
Persoalan lain yang saat ini turut memengaruhi aktivitas pendidikan adalah kondisi kabut asap. Yono menyebut, SMPN 1 Kurun telah melaksanakan pembelajaran jarak jauh selama sekitar dua minggu akibat kondisi tersebut.
“Yang kedua tentu dukungan pemerintah daerah dalam hal keadaan kabut asap yang sekarang ini. Karena sudah dua minggu ini pembelajaran jarak jauh. Ini memprihatinkan,” ujarnya.
Selain sarana digital dan kondisi kabut asap, kebutuhan tenaga pendidik juga menjadi perhatian SMPN 1 Kurun. Saat ini sekolah memiliki 48 guru, sementara jumlah siswa mencapai 776 orang dengan 26 ruang belajar.
Menurut Yono, sekolah masih membutuhkan tambahan tenaga pendidik, terutama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn).
“Kita membutuhkan guru, terutama guru Bahasa Indonesia karena kemarin ada yang meninggal, kemudian guru PKn,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Yono berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap tiga kebutuhan utama sekolah, yakni penguatan digitalisasi melalui pemenuhan laptop dan perangkat komputer, dukungan menghadapi dampak kabut asap terhadap proses pembelajaran, serta penambahan tenaga guru.(njh)












