Foto. Ketua MUI Gumas, H. Fahmi (kiri) bersama Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gumas) H. Abdul Majid Rahimi.(jendelakalteng/njh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Di tengah kondisi kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah di Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gumas mengajak masyarakat untuk meningkatkan introspeksi diri, memperbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah SWT.
Ajakan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Sholat Istisqo dan doa bersama yang dijadwalkan berlangsung Kamis (10/9/2026) pukul 08.00 WIB hingga selesai di Halaman Masjid Agung Darun Najah Kuala Kurun. Kegiatan ini menjadi ikhtiar keagamaan untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi masyarakat dan seluruh makhluk hidup.
Ketua MUI Gumas, H. Fahmi, saat diwawancarai, Rabu (9/9/2026), mengatakan Sholat Istisqo merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan hujan setelah kondisi kekeringan yang dirasakan masyarakat.
Menurut Fahmi, inti dari pelaksanaan doa bersama tersebut bukan semata-mata meminta turunnya hujan, tapi juga menjadi momentum bagi umat untuk melakukan introspeksi atas berbagai kekhilafan dan kesalahan yang telah dilakukan.
“Besok kita lebih banyak istighfar, lebih banyak bertobat, dan mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan agar Allah SWT memberikan hujan dari langit,” ujar Fahmi.
Fahmi menegaskan, Sholat Istisqo memang secara khusus dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Kegiatan tersebut juga bukan kali pertama dilakukan di Gumas. Sholat Istisqo yang akan digelar besok merupakan pelaksanaan yang keempat kalinya.
Fahmi berharap masyarakat dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan. Sebab, persoalan kekeringan tidak hanya menyangkut kebutuhan manusia,tapi juga menyentuh keberlangsungan hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan secara keseluruhan.
“Bukan hanya manusia yang memerlukan air. Hewan dan tumbuh-tumbuhan juga memerlukannya. Oleh sebab itu, air sangat-sangat diperlukan untuk kemaslahatan kita bersama,”kata Fahmi.
Menurut Fahmi, air merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Karena itu, selain melakukan berbagai upaya teknis menghadapi dampak kemarau, ikhtiar spiritual melalui doa dan Sholat Istisqo diharapkan menjadi sarana untuk mengetuk pintu pertolongan Allah SWT.
MUI Gumas pun mengajak masyarakat untuk tidak sekedar berharap hujan turun,tapi menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan memperbaiki diri, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan serta meningkatkan rasa syukur atas nikmat air yang selama ini kerap dianggap biasa.
“Sholat Istisqo pada akhirnya bukan hanya tentang memohon hujan,tapi juga tentang kesadaran manusia bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga, disyukuri dan dimanfaatkan secara bijaksana,”pungkas Fahmi.(njh)












