Foto. Kepala SMPN 1 Manuhing Raya, Lelon Tuah,S.Pd.(jendelakalteng/Ist)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik hingga kini belum dirasakan siswa SMPN 1 Manuhing Raya, Kecamatan Manuhing Raya, Kabupaten Gunung Mas (Gumas).
Hal tersebut disampaikan Kepala SMPN 1 Manuhing Raya, Lelon Tuah, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (9/9/2026). Lelon menegaskan, sampai saat ini belum ada pelaksanaan program MBG di sekolah yang dipimpinnya.
“Untuk MBG di SMPN 1 Manuhing belum ada. Masih belum pernah menerima MBG,”ujar Lelon.
Lelon menyampaikan, kondisi tersebut menjadi perhatian sekolah, mengingat pemenuhan asupan gizi memiliki keterkaitan dengan kesiapan dan kemampuan siswa mengikuti proses pembelajaran. Bagi siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan memadai atau berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ketersediaan makanan bergizi di sekolah dapat menjadi salah satu faktor pendukung untuk menjaga energi dan konsentrasi selama kegiatan belajar.
Terlebih, dengan beban pembelajaran yang berlangsung cukup panjang, kebutuhan energi peserta didik menjadi semakin penting.”Ketika asupan makanan tidak terpenuhi secara optimal, siswa berpotensi lebih mudah mengalami kelelahan dan kehilangan fokus, terutama memasuki jam-jam pelajaran berikutnya,”kata Lelon.
Di sisi lain, Lelon mengakui, belum masuknya MBG juga menunjukkan bahwa pemerataan program tersebut masih menjadi pekerjaan penting, khususnya bagi satuan pendidikan di wilayah yang belum tersentuh layanan penyediaan makanan bergizi.
Pihak SMPN 1 Manuhing Raya, kata Lelon, terus melakukan koordinasi dan pemutakhiran data sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung masuknya berbagai program pemerintah, termasuk MBG.
Sekolah juga menyampaikan kondisi riil satuan pendidikan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga serta dalam berbagai forum kedinasan maupun sosialisasi program pemerintah.
“Kami terus mengikuti proses dan tahapan yang ditetapkan pemerintah. Harapannya, SMPN 1 Manuhing Raya dapat segera masuk dalam penyaluran MBG,”ujar Lelon.
Menurut Lelon, sekolah memahami bahwa pelaksanaan MBG dilakukan secara bertahap dan sangat bergantung pada kesiapan wilayah, satuan pelayanan pemenuhan gizi, infrastruktur, serta rantai pasok dan distribusi makanan.
Namun demikian,kata Lelon, bagi sekolah, percepatan pemerataan tetap penting. Sebab, tujuan utama MBG bukan sekedar menyediakan makanan tambahan, melainkan memastikan anak-anak memperoleh dukungan gizi yang layak sebagai bagian dari investasi terhadap kesehatan, tumbuh kembang dan kualitas pembelajaran mereka.
“Belum diterimanya MBG oleh siswa SMPN 1 Manuhing Raya menjadi catatan tersendiri agar perluasan program tidak hanya berorientasi pada jumlah penerima, tetapi juga memastikan sekolah-sekolah di wilayah yang belum terjangkau memperoleh akses secara adil dan tepat sasaran,”imbuh Lelon.(njh)












