Foto. Ketua Forum Gumas Sehat Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong.(jendelakalteng/njh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas),terus memperkuat kesiapsiagaan aparatur dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan medis melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama. Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gumas melalui Sosialisasi Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga non-ASN di lingkungan pemerintah daerah.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Gumas, Selasa (13/10/2026) pagi tersebut diikuti ratusan peserta dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi di lingkungan Pemkab Gumas.
Pelaksanaan kegiatan sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, khususnya terkait pengembangan kompetensi pegawai, serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja sebagai salah satu landasan penting dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Saat membuka kegiatan, Ketua Forum Gumas Sehat Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong, menegaskan bahwa pengetahuan mengenai BHD sangat penting karena kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja, termasuk orang-orang terdekat.
Menurut Mimie, keterampilan pertolongan pertama tidak hanya dibutuhkan dalam situasi darurat di lingkungan kerja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika seseorang mengalami tersedak, kehilangan kesadaran, atau menghadapi kondisi medis yang mengancam jiwa.\
Mimie bahkan membagikan pengalaman ketika seorang anak kecil tersedak permen. Beruntung, orang tua anak tersebut segera memberikan pertolongan sehingga permen yang menyumbat saluran pernapasannya dapat dikeluarkan.
“Bantuan Hidup Dasar ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika anak kecil tersedak atau seseorang tiba-tiba mengalami kondisi darurat. Dengan mengetahui cara memberikan pertolongan pertama yang benar, kita bisa membantu sebelum tenaga medis tiba,” ujar Mimie.
Mimie menekankan, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak boleh berhenti sebatas pemahaman pribadi. ASN dan tenaga non-ASN diharapnya menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyebarluaskan informasi dan keterampilan dasar tersebut kepada keluarga, tetangga, rekan kerja, serta masyarakat di lingkungan masing-masing.
Menurut Mimie, kemampuan memberikan pertolongan pertama juga menjadi bekal penting ketika terjadi bencana alam maupun kondisi darurat lainnya yang membutuhkan respons cepat sebelum bantuan medis profesional tiba.
Atas terselenggaranya kegiatan tersebut, Mimie menyampaikan apresiasi kepada Dinkes Gumas dan berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun, dengan jangkauan peserta dan sosialisasi yang semakin luas.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Apa yang dipelajari harus disampaikan kembali kepada orang-orang di sekitar kita agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui cara memberikan pertolongan pertama dengan benar,”tegas Mimie.
Mimie juga meminta seluruh peserta mengikuti materi yang disampaikan narasumber secara serius agar mampu memahami tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi kegawatdaruratan medis.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes Gumas, dr. Waltiana, M.M., menjelaskan bahwa BHD atau Basic Life Support merupakan serangkaian tindakan pertolongan awal untuk mempertahankan atau memulihkan fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pada seseorang yang mengalami kondisi mengancam jiwa, seperti henti jantung dan henti napas, sembari menunggu penanganan tenaga medis profesional.
“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pelatihan dan informasi yang benar kepada ASN dan tenaga non-ASN tentang Bantuan Hidup Dasar, termasuk bagaimana memberikan pertolongan pertama sebelum tenaga medis datang, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kegawatdaruratan,” jelas Walti kepada mediadayak.id seusai kegiatan.
Walti menilai, pemahaman BHD memiliki peran strategis dalam meningkatkan peluang keselamatan korban, mencegah kematian yang sebenarnya dapat dihindari melalui pertolongan tepat waktu, serta membantu mempertahankan pasokan oksigen ke otak pada kondisi tertentu.
Walti juga menginformasikan bahwa Dinkes Gumas memiliki layanan kegawatdaruratan melalui Public Safety Center (PSC) dengan nomor kontak 911. Layanan tersebut dapat dihubungi masyarakat untuk meminta bantuan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis.
“Dengan adanya pengetahuan Bantuan Hidup Dasar dan dukungan layanan kegawatdaruratan, kami berharap masyarakat semakin siap memberikan pertolongan awal yang tepat sembari menunggu tenaga medis datang,” tambah Walti.
Kegiatan yang berlangsung hingga tanggal 21 Oktober 2026 itu menghadirkan dr. Henri Dumas, M.Kes., Sp.An-TI, sebagai narasumber.(njh)












