Foto. Tampak semburat kebahgiaan terpancar dari wajah Nina Astuti (28)dan suaminya saat menerima bantuan program Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) di Jalan Paulus Syawal RT o1 kelurahan Kuala Kurun.(jendelakalteng/njh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Sebuah rumah bukan sekedar bangunan berdinding dan beratap. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, rumah yang layak adalah tempat berlindung, ruang membesarkan anak, sekaligus pijakan untuk menata masa depan.
Makna itulah yang kini dirasakan Nina Astuti (28) setelah keluarganya menerima bantuan melalui program Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) di Jalan Paulus Syawal RT o1 Kelurahan Kuala Kujrun Rumah yang sebelumnya nyaris tidak memenuhi standar kelayakan, kini berubah menjadi hunian yang jauh lebih nyaman dan membanggakan bagi keluarganya.
“Menurut saya ini sangat membantu,apalagi keluarga kami tergolong tidak mampu. Dengan adanya bantuan ini sangat membantu, karena rumah kami dulunya hampir tidak layak huni. Sekarang sudah menjadi seperti ini,” ujar Nina saat dibincangi jendelakalteng.co.id,Rabu (2/9/2026).
Bagi Nina, perubahan tersebut bukan hanya soal fisik bangunan. Ada rasa lega sekaligus kebanggaan ketika keluarganya akhirnya memiliki tempat tinggal yang lebih layak untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
“Saya merasa bangga sekali kepada bapak-bapak yang memberikan bantuan kepada kami,”ujarnya dengan mata tampak berkaca-kaca.
Nina tinggal bersama suaminya dan dua orang anak. Sang suami selama ini bekerja sebagai petani, sementara untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia juga menjalani pekerjaan menambang emas secara tradisional.
Kehidupan sebagai keluarga berpenghasilan rendah membuat bantuan rumah layak huni memiliki arti yang jauh lebih besar buat Nina dan suaminya. Ketika kebutuhan dasar berupa tempat tinggal yang aman dan nyaman mulai terpenuhi, muncul pula ruang bagi keluarga untuk memikirkan langkah berikutnya.
Nina melihat halaman rumahnya yang masih cukup luas sebagai peluang. Ia mulai membayangkan rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal,tapi juga bisa menjadi titik awal untuk mengembangkan usaha kecil keluarga.
“Halaman rumah masih besar. Mungkin ke depannya, kalau ada penambahan penduduk, saya bisa membuka usaha di depan, seperti warung kecil,”tuturnya.
Harapan itu memang sederhana. Namun bagi keluarga seperti Nina, sebuah warung kecil dapat menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga.
Di sisi lain, sang suami juga mengaku bersyukur atas bantuan rumah tersebut. Dengan pekerjaan yang masih mengandalkan penghasilan dari sektor pertanian dan aktivitas menambang emas, rumah layak huni menjadi salah satu bentuk dukungan penting bagi keluarganya.
“Senang, Pak. Saya berterima kasih,” ujarnya singkat sembari menghisap rokoknya.
Ketika ditanya mengenai pekerjaannya saat ini, ia mengatakan masih bekerja menambang emas secara tradisional. Penghasilannya memang tidak selalu besar dan pasti,tapi menurutnya masih cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Lumayan, ada saja, Pak,” katanya lirih.
Kisah keluarga Nina menunjukkan bahwa program RTLH tidak berhenti pada pembangunan sebuah bangunan. Di balik dinding rumah yang kini lebih kokoh dan layak, terdapat harapan sebuah keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat.
Rumah yang dahulu hampir tidak layak huni itu,kini menjadi tempat bagi dua anaknya tumbuh, tempat keluarga beristirahat setelah bekerja, sekaligus ruang untuk menyusun cita-cita baru.
Dan dari halaman rumah yang masih terbentang itu, Nina dan suaminya mulai melihat satu kemungkinan sederhana, membuka warung kecil, menambah penghasilan, dan perlahan mengubah kehidupan keluarganya.
Sebab bagi keluarga berpenghasilan rendah, seperti Nina, rumah layak bukanlah akhir dari perjuangan. Ia justru dapat menjadi awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.(njh)












