Foto. Kepala SMPN 1 Kurun, Yono,S.Pd. (jendelakalteng/njh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Kurun, Kabupaten Gunung Mas (Gumas), secara umum berjalan lancar. Namun, program yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 tersebut masih menghadapi satu persoalan yang perlu mendapat perhatian, yakni kesesuaian menu dengan selera peserta didik.
Kepala SMPN 1 Kurun, Yono, mengatakan sekolah pada prinsipnya menyambut baik pelaksanaan MBG karena program tersebut memberikan manfaat bagi siswa maupun guru. Bahkan, sejak Januari 2026, guru di sekolah tersebut juga mulai mendapatkan manfaat program MBG.
“MBG ini sangat menarik ya. Kalau secara pribadi, saya menyenangkan karena Bapak/Ibu guru mendapat sarapan yang disediakan. Mungkin banyak yang tidak sempat sarapan, sehingga ini membantu,” ujar Yono saat diwawancarai, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, hal serupa juga dirasakan oleh para siswa. Namun, persoalan muncul ketika makanan yang disediakan tidak sesuai dengan selera atau preferensi anak. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa memilih tidak mengonsumsi makanan yang telah disediakan.
“Untuk anak-anak, hanya permasalahannya saat menu yang disediakan tidak sesuai selera anak. Saat seperti itu mereka tidak makan. Mereka memilih makanan yang disediakan di kantin. Akhirnya makanan MBG itu tidak dimakan dan menjadi mubazir,”ungkap Yono.
Yono menjelaskan, dari sisi teknis pelaksanaan, SMPN 1 Kurun sejauh ini tidak menghadapi kendala berarti. Sekolah bahkan telah menyiapkan fasilitas pendukung berupa kanopi dan meja untuk tempat penyediaan makanan MBG.
“Kalau kendalanya, sepertinya kita tidak terkendala. Sekolah sudah menyiapkan kanopi untuk menyediakan meja-meja ompreng MBG. Selama ini berjalan normal dan lancar, hanya masalah menu yang terkadang tidak sesuai dengan pilihan anak-anak,”jelas Yono.
Sementara itu, pelaksanaan MBG di SMPN 1 Kurun dalam dua pekan terakhir dihentikan sementara. Hal tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sehingga siswa tidak berada di sekolah.
Yono mengatakan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebenarnya tetap siap mendistribusikan makanan. Namun, sekolah mengalami kendala apabila makanan harus diantarkan ke rumah masing-masing siswa.
“Selama PJJ ini, dua minggu ini, MBG kami tidak bersedia menerima. Dari SPPG selalu siap mengantar,tapi karena anak-anak di rumah dan kami kesulitan mengantar makanan ke rumah, sehingga kami berkoordinasi dengan SPPG untuk dihentikan sementara,”kata Yono.
Yono menegaskan, penghentian tersebut bukan karena sekolah menolak program MBG, melainkan semata-mata menyesuaikan mekanisme distribusi dengan kondisi pembelajaran siswa yang berlangsung dari rumah.
Terkait dampak MBG terhadap kesehatan, konsentrasi belajar dan kehadiran siswa, Yono mengakui pihak sekolah belum melakukan evaluasi secara komprehensif.
Menurutnya, sekolah belum memiliki data khusus yang dapat mengukur secara objektif sejauh mana MBG memberikan pengaruh terhadap kesehatan maupun konsentrasi belajar siswa.
“Kita memang belum mengevaluasi secara komprehensif apa dampaknya. Karena anak-anak kadang juga tidak makan, itu karena menu yang disediakan tidak sesuai dengan selera mereka,”ujar Yono.
Meski demikian,Yono melihat adanya indikasi bahwa keberadaan MBG turut memberikan pengaruh terhadap semangat sebagian siswa untuk datang ke sekolah.
Menurut Yono, sebagian siswa merasa terbantu karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sarapan atau makanan selama berada di sekolah. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli makanan bahkan dapat mereka simpan atau tabung.
“Untuk kehadiran, sepertinya ada yang mempengaruhi. Anak-anak sebagian ada yang semangat karena memikirkan ada MBG. Jadi uang belanjanya bisa mereka tabung,”tuturnya.
Yono menandaskan, pelaksanaan MBG di SMPN 1 Kurun dinilai telah memberikan manfaat, tetapi efektivitas program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi. Penerimaan siswa terhadap menu, tingkat konsumsi makanan yang diberikan, hingga evaluasi dampaknya terhadap kesehatan dan proses belajar menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan agar program tidak berhenti sebatas makanan tersaji,tapi benar-benar dikonsumsi dan memberikan manfaat gizi bagi peserta didik.(njh)












