WhatsApp Image 2025-07-22 at 03.21.10
Bagikan Ke Sosial Media

Foto.Bupati Gunung Mas Jaya Samaya Monong.(Jendela kalteng/nh)

Kuala Kurun,Jendela Kalteng

Pernyataan mengejutkan dilontarkan Bupati Gunung Mas (Gumas) Jaya Samaya Monong saat rapat singkronisasi program prioritas pembangunan Kabupaten Gumas melalui Program Tambun Bungai di aula DPU Gumas beberapa waktu lalu.

Dengan gaya santuy namun penuh makna, Jaya tegas menyebut dirinya bukanlah sosok mitologi Bandung Bondowoso yang bisa membangun candi hanya dalam semalam.

Hal itu Jaya sampaikan untuk memberikan pemahaman pada sejumlah pihak yang menginginkan agar pembangunan di Gumas ini dilakukan secara cepat-cepoat agar cepat pula  selesai.

“Perlu kita semua dan masyarakat Gunung Mas fahami, bahwa saya dan bu Efrensia  ini bukan Bandung Bondowoso. Pembangunan di Gunung Mas tidak bisa Bim Salabim, tapi butuh waktu, butuh proses dan komitmen, butuh perencanaan yang matang dan anggaran yang tersedia,” tegas Jaya didampingi Wakil Bupati (Wabup) Gumas Efrensia L.P Umbing,Sekda Richard dan Plt.Asisten II Setda Gumas Baryen.

Menurut Jaya, pembangunan itu tidak seperti sulap. Tidak bisa hari ini direncanakan, besok langsung selesai.

“Kita semua harus bersabar, namun tetap aktif ikut mendukung dan mengawal jalannya pembangunan,”ucapnya.

Pesan serius di balik pernyataan Jaya itu memang tak terbantahkan. Jaya menegaskan kembali bahwa membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, hingga menyejahterakan masyarakat tidak bisa dilakukan dengan cara instan dan langsung selesai.

“Semuanya butuh kolaborasi, dukungan masyarakat, dan proses bertahap sesuai aturan yang berlaku,seperti halnya Program Tambun Bungai ini,butuh kolaborasi bersama.Mari kita mendayung “perahu”pembangunan di Gunung Mas secara bersama-sama,”tegas Jaya.

Figur berlatar pengusaha itu pun meminta masyarakat Gumas untuk tetap bersabar dan tidak terprovokasi dengan narasi yang menyesatkan, seolah-olah Pemkab Gumas bisa “menyulap” perubahan besar dalam waktu singkat tanpa perencanaan dan evaluasi serta anggaran.

“Ya kita harus realistis sajalah. Kami ini di pemerintahan bekerja berdasarkan skala prioritas, tidak bisa asal bangun. Tapi percayalah, semua yang kami lakukan dalam Program Tambun Bungai untuk kebaikan dan kemajuan daerah ini masyarakat dan daerah ini,”ujar Jaya 

Jaya menekankan bahwa pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, dan drainase bukan sekadar soal konstruksi, tapi juga menyangkut perizinan, penganggaran, dan pertanggungjawaban hukum.

“Kecepatan  pembangunan tidak boleh mengorbankan kualitas dan akuntabilitas,”tukasnya.

Lalu siapakah Bandung Bondowoso? Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang adalah dua tokoh dalam cerita rakyat Jawa Tengah yang dikenal sebagai legenda Candi Prambanan.

Bandung Bondowoso adalah tokoh sakti yang menaklukkan Kerajaan Prambanan, dan jatuh cinta kepada Roro Jonggrang, putri dari raja yang dikalahkannya.

Bandung Bondowoso jatuh cinta dan ingin melamar Roro Jonggran menjadi isterinya.  Jauh di lubuk hatinya, Jonggrang tapi Roro Jonggrang sama sekali tidak mencintainya dan ingin menolak lamaran Bandung Bondowoso.

Namun karena tidak bisa menolak secara langsung, ia memberikan syarat yang  berat.

“Kalau kau ingin menikahiku, bangunlah untukku 1.000 candi dalam satu malam,”pinta Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso terkejut kaget dengan permintaan itu, Namun dengan bantuan pasukan jin, Bandung Bondowoso hampir berhasil menyelesaikannya.

Roro Jonggrang dan penduduk desa menjadi takut dan kemudian menipu dengan membunyikan lesung dan membakar jerami untuk membuat seolah-olah fajar telah tiba.

Melihat itu, jin-jin milik Bandung Bondowoso pun pergi, dan Bandung Bondowoso hanya berhasil membangun 999 candi.

Mengetahui dirinya telah ditipu, Bandung Bondowoso pun murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu, yang dipercaya menjadi Arca Dewi Durga di Candi Prambanan.(nh)

image_print

Bagikan Ke Sosial Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *