Raungan Sengso yang Membesarkan Keluarga, 47 Tahun Menaklukkan Rimba, Barito Tutup Mesin Chainsaw dan Menikmati Senja Bersama Istri

Foto. Barito atau Bapa Pison.(Jendela Kalteng/nh)
Kuala Kurun,Jendela Kalteng
Deru mesin sengso pernah menjadi napas hidup Barito. Suaranya memecah sunyi hutan pedalaman Kabupaten Gunung Mas (Gumas) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengiringi langkah seorang pria sederhana yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari kayu dan kerasnya rimba.
Kini, suara itu perlahan menghilang.Di usia 60 tahun, Barito akhirnya memilih berhenti dari pekerjaan yang telah membesarkan keluarganya sejak 1979, kerja nyingso kayu,aktivitas menebang, memotong, hingga membelah kayu menggunakan chainsaw yang bagi sebagian orang penuh risiko, lumpur, dan maut.
Namun bagi Barito, hutan bukan sekedar tempat bekerja. Hutan adalah saksi perjuangan hidupnya.
Pria kelahiran 1960 di Puruk Cahu itu mengenang awal mula dirinya mengenal dunia sengso. Semua bermula ketika ia bekerja di sebuah perusahaan kayu. Saat itu ia hanya membantu di bagian nyengso sebelum akhirnya dipercaya menjadi operator penuh.
“Awalnya saya kerja di perusahaan, ditugaskan di bagian nyengso. Setelah sekitar delapan bulan, baru saya nyingso sendiri,” tutur Barito kepada Jendelakalteng, Senin (25/5/2026).
Sejak saat itu, hidupnya nyaris tak pernah jauh dari aroma oli, kayu basah, dan suara meraung mesin chainsaw.
Barito menjelajah hingga ke Hulu Napoi. Di sana ia menebang berbagai jenis kayu bernilai tinggi seperti meranti dan mahadirang. Kayu-kayu itu kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Motivasi saya nyingso itu untuk kebutuhan pribadi, bikin rumah, selanjutnya baru dijual,”ucapnya.
Kalimat itu sederhana,tapi menyimpan kisah panjang tentang lelaki yang membangun hidup dari kerasnya medan hutan Kalimantan Tengah.
Dari hasil kerja nyingso, Barito mampu mengantongi rata-rata Rp 5 juta per bulan,angka yang cukup besar pada masanya. Uang itu bukan hanya untuk makan sehari-hari,tapi juga menjadi pondasi masa depan keluarganya.
Sedikit demi sedikit, hasil dari kayu yang ia singso menjelma menjadi enam rumah yang berdiri kokoh di Kuala Kurun dan Palangka Raya.
Rumah-rumah itu bukan sekedar bangunan.Di balik dindingnya ada peluh, keberanian, dan ribuan jam bertarung dengan alam.Namun waktu tak pernah bisa dilawan.
Saat ditanya mengapa memilih pensiun, Barito sempat terdiam. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab lirih.“Karena faktor usia,” ucapnya pelan.
Kini, lelaki yang akrab disapa Bapa Pison itu memilih menikmati masa tua bersama sang istri, Singah, yang juga telah pensiun dari profesinya sebagai guru.
Di usia senja, keduanya menikmati hasil perjuangan panjang mereka sambil ditemani empat orang anak yang telah dewasa.
Meski mesin sengso telah berhenti meraung, Barito rupanya belum benar-benar meninggalkan jejak profesinya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap pekerjaan yang telah menghidupinya selama puluhan tahun, ia mengabadikan kenangan itu melalui nama usaha miliknya. Di ruko hingga mobil pribadinya terpampang tulisan yang begitu melekat dengan perjalanan hidupnya,“Sinar Sthil,” Sebuah nama yang bukan hanya sekadar brand tetapi simbol perjuangan seorang lelaki rimba yang mengubah suara chainsaw menjadi masa depan keluarganya.(nh)