WhatsApp Image 2026-04-04 at 06.07.13
Bagikan Ke Sosial Media

Foto. Calon anggota Paskibraka Kabupaten Barito Utara tahun 2026 saat mengikuti seleksi tes TWK dan TIU secara tertutup di gedung Balai Antang Muara Teweh, Sabtu (4/4/2026).(Jendela Kalteng/Ist)

Muara Teweh,Jendela Kalteng

Seleksi calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Barito Utara (Batara) tahun 2026 benar-benar berlangsung sengit dan penuh tensi. Bertempat di Gedung Balai Antang Muara Teweh, Sabtu (4/4/2026)), puluhan pelajar terbaik diuji bukan hanya fisik,tapi juga ketajaman intelektual dan wawasan kebangsaan mereka.

Sebanyak 91 peserta,terdiri dari 50 pria dan 41 wanita,bertarung dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), menyisakan persaingan ketat dari total awal 129 pendaftar. Dalam waktu 60 menit, peserta ditantang menaklukkan 20 soal yang menguji pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kebangsaan. Suasana ruang ujian terasa tegang, terlebih dengan pengawasan ketat dari tim gabungan TNI, Polri, Kesbangpol Batara, tenaga kesehatan, hingga purna Paskibraka.

Hasilnya, seleksi langsung menyaring peserta secara signifikan. Sebanyak 5 peserta wanita harus terhenti langkahnya setelah gagal memenuhi ambang batas nilai. Sementara itu, 11 peserta pria juga gugur, menandai kerasnya kompetisi menuju tahap berikutnya.

Tak berhenti di situ, para peserta yang lolos langsung dihadapkan pada Tes Intelegensia Umum (TIU),sebuah ujian yang mengasah kemampuan berpikir cepat, logis, dan analitis di bawah tekanan waktu. TIU menjadi gerbang krusial untuk mengukur kecerdasan intelektual calon Paskibraka, memastikan mereka bukan hanya kuat secara fisik, tapi juga cerdas secara mental.

Materi TIU pun tak main-main. Mulai dari kemampuan verbal seperti sinonim, antonim, analogi, hingga pemahaman bacaan,kemampuan numerik seperti hitungan cepat, deret angka, dan soal cerita matematika, hingga kemampuan figural yang menguji ketajaman analisis pola dan logika visual.

Kepala Badan Kesbangpol Batara, Rayadi, melalui Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa, Sumadi Kamarol, menegaskan, tahapan ini menjadi penentu kualitas generasi muda yang akan mengemban tugas kehormatan sebagai Paskibraka.

“Seleksi TWK dan TIU ini bukan sekadar menguji pengetahuan dan kecerdasan. Ini adalah proses pembentukan karakter kebangsaan. Kami ingin memastikan yang terpilih benar-benar memiliki integritas, wawasan kebangsaan yang kuat, serta kemampuan intelektual yang mumpuni,” tegasnya.

Semangat juang juga datang dari para peserta daerah. SMAN 5 Lemo, Kecamatan Teweh Tengah, mengirimkan lima pelajar terbaiknya. Meski dihadapkan pada kendala cuaca yang kerap mengganggu kondisi fisik dan mobilitas, pihak sekolah tetap optimis.

“Kami sudah mempersiapkan siswa dengan maksimal. Tantangan cuaca memang ada, tapi semangat mereka tidak surut. Kami berharap ada yang mampu menembus seleksi hingga menjadi Paskibraka 2026,” ujar Wakil Kepala Kesiswaan, Suaji.

Hal senada disampaikan guru pendamping SMAN 1 Montallat, Frediyanata. Ia menilai seleksi ini menjadi ajang penting dalam membentuk mental, disiplin, dan daya saing siswa.

“Ini bukan hanya soal lolos atau tidak, tetapi bagaimana siswa ditempa menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan cerdas. Kami berharap mereka mampu memberikan hasil terbaik sekaligus mengharumkan nama sekolah,” tuturnya.

Dilaksanakan secara tertutup dan penuh disiplin, seleksi ini menjadi gerbang awal untuk melahirkan putra-putri terbaik daerah yang siap mengemban tugas sakral mengibarkan Sang Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026. Atmosfer kompetisi yang ketat menjadi bukti bahwa hanya yang terbaiklah yang akan melangkah lebih jauh menuju kehormatan tersebut.(Ist/nh/Lim)

 

image_print

Bagikan Ke Sosial Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *