Gaspol Infrastruktur! Pemkab Bartara Siapkan Tiga Jembatan Raksasa Lewat Skema Multi Years 2026–2029

Foto. Kepala Dinas PUPR Batara, M. Iman Topik, memaparkan proyek infrastruktur berskala masif dengan skema kontrak tahun jamak (multi years contract/MYC) 2026–2029, dalam rapat di Ruang Paripurna DPRD, Kamis (30/4/2026). (Jendela Kalteng/Ist)
Muara Teweh,Jendela Kalteng
Pemerintah Kabupaten Barito Utara (Pemkab Batara) tancap gas mempercepat pembangunan. Lewat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), strategi besar digulirkan, proyek infrastruktur berskala masif dengan skema kontrak tahun jamak (multi years contract/MYC) 2026–2029. Rencana ambisius ini dipaparkan langsung Kepala Dinas PUPR Barito Utara, M. Iman Topik, dalam rapat di Ruang Paripurna DPRD, Kamis (30/4/2026),dan langsung menyedot perhatian para legislator.
Di hadapan pimpinan dan anggota dewan, Iman Topik menegaskan, program MYC bukan sekedar proyek rutin, melainkan langkah percepatan pembangunan yang dirancang selaras dengan Program Gaspol 11–12 Bupati dan Wakil Bupati. Fokusnya tajam, membongkar keterisolasian wilayah melalui pembangunan tiga jembatan strategis yang selama ini menjadi “urat nadi” konektivitas masyarakat.
Tiga jembatan tersebut masing-masing Jembatan Sikan–TP Laung, Jembatan Lemo–Lemo Seberang, serta Jembatan Lahei Seberang–Lahei. Bukan tanpa alasan, proyek ini menjadi prioritas utama. Secara geografis, Barito Utara didominasi aliran sungai yang kerap menjadi penghambat mobilitas. Kehadiran jembatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Penyediaan infrastruktur transportasi yang memadai akan mempercepat konektivitas, membuka keterisolasian wilayah, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pusat-pusat kegiatan ekonomi,” tegas Iman Topik, menekankan urgensi proyek tersebut.
Tak berhenti pada jembatan, program ini juga menyasar peningkatan kualitas ruas jalan vital. Di antaranya jalur Km 34–Simpang Mampuak–Simpang Benangin di Kecamatan Teweh Timur, serta penataan jalan dalam Kota Muara Teweh. Pembenahan ini diyakini akan memangkas waktu tempuh, menekan biaya logistik, dan memperlancar arus distribusi barang serta mobilitas masyarakat.
Lebih jauh, program MYC ini diproyeksikan menjadi motor penggerak pemerataan pembangunan. Wilayah-wilayah yang selama ini terpisah oleh sungai akan semakin terhubung, membuka peluang baru bagi pengembangan sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, hingga potensi ekonomi lainnya yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Dengan pembangunan ini, akses transportasi akan semakin lancar, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat meningkat, dan wajah kota menjadi lebih representatif,” tambahnya optimistis.
Skema kontrak tahun jamak 2026–2029 dipilih bukan tanpa pertimbangan. Pola ini dinilai mampu memastikan pembangunan berjalan lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan, dengan pengendalian ketat terhadap mutu, waktu, dan biaya.
Paparan tersebut pun memicu diskusi serius di kalangan DPRD Barito Utara. Sejumlah masukan strategis mengemuka, menandakan besarnya perhatian legislatif terhadap proyek yang digadang-gadang akan menjadi tonggak perubahan wajah infrastruktur daerah.
Dengan langkah berani ini, Pemkab Batara menunjukkan sinyal kuat, percepatan pembangunan bukan lagi wacana. Jika berjalan sesuai rencana, proyek multi years ini berpotensi menjadi lompatan besar yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.(Ist/nh/Lim)