Bawaslu Akui Partisipasi Generasi Muda dan Pemilih Pemula Gumas dalam Pengawasan Partisipatif Belum Maksimal!

Foto. Ketua Bawaslu Gumas, Yepta H Jinal.(Jendela Kalteng/nh)

Kuala Kurun,Jendela Kalteng

Partisipasi generasi muda dan pemilih pemula di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) dalam pengawasan partisipatif pemilu dinilai terus menunjukkan tren positif. Namun di balik tingginya antusiasme kaum muda dalam menggunakan hak pilih dan bergabung sebagai pengawas adhoc, ternyata keterlibatan aktif dalam mengawasi jalannya demokrasi masih jauh dari harapan.

Ketua Bawaslu Gumas, Yepta H Jinal menegaskan, kesadaran generasi muda untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemilu, khususnya di bidang pengawasan, sebenarnya cukup tinggi. Bahkan sebagian besar jajaran Panwaslu Kecamatan (Panwascam), Pengawas Kelurahan/Desa (PKD), hingga Pengawas TPS didominasi kalangan muda.

“Partisipasi pemilih muda untuk datang ke TPS cukup tinggi, tetapi keterlibatan aktif dalam pengawasan seperti melaporkan dugaan pelanggaran masih rendah,” ujar Yepta kepada media ini, Sabtu (16/5/2026).

Tak hanya itu, minat masyarakat untuk menjadi pemantau pemilu juga dinilai sangat minim. Fakta tersebut terlihat dari tidak adanya lembaga pemantau pemilu yang mendaftar selama tahapan pemilu berlangsung di Kabupaten Gumas.

Menurut Yepta, masih rendahnya partisipasi pengawasan dari generasi muda dipengaruhi sejumlah faktor krusial. Salah satunya adalah rendahnya literasi regulasi pemilu, terutama terkait pemahaman jenis-jenis pelanggaran seperti politik uang, kampanye hitam, hingga penyebaran isu SARA di media sosial.

Selain itu, hambatan psikologis juga menjadi persoalan serius. Banyak masyarakat, khususnya pemilih pemula, merasa segan bahkan takut melapor karena adanya hubungan kekerabatan maupun kedekatan sosial di lingkungan sekitar.

“Kurangnya ketertarikan terhadap informasi edukasi pemilu juga menjadi tantangan. Ditambah lagi sosialisasi dan pendidikan politik selama ini masih terbatas pada tahapan pemilu saja,” ungkap Yepta.

Melihat kondisi tersebut, Bawaslu Gumas menyiapkan sejumlah langkah strategis guna meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam pengawasan partisipatif.

Salah satunya melalui pendidikan politik berkelanjutan dengan memperbanyak program kreatif yang menyasar sekolah dan komunitas kepemudaan. Bawaslu juga berencana menghadirkan forum diskusi santai untuk membedah berbagai potensi kerawanan pemilu agar lebih mudah dipahami generasi muda.

Tak hanya itu, optimalisasi platform digital juga menjadi fokus utama. Pemilih pemula yang akrab dengan teknologi didorong memanfaatkan aplikasi pelaporan digital agar dugaan pelanggaran dapat dilaporkan secara cepat, praktis, dan terjamin kerahasiaannya.

Bawaslu juga terus memperkuat program Kader Pengawas Partisipatif sebagai bagian dari program nasional untuk mencetak kader-kader muda pengawas pemilu di tingkat akar rumput.

“Kader muda ini nantinya menjadi perpanjangan tangan pengawasan untuk mengedukasi rekan sebaya dan masyarakat luas demi menjaga kualitas demokrasi,” tegas Yepta.

Yepta menambahkan, sinergi dengan institusi pendidikan dan organisasi kepemudaan juga menjadi langkah penting agar pengawasan pemilu dapat tumbuh sebagai tanggung jawab moral generasi muda di Kabupaten Gunung Mas.

Sementara itu, Komisioner Bawaslu Gumas, Agus Praptomo Cahyo turut membenarkan bahwa partisipasi generasi muda dalam pengawasan pemilu memang belum maksimal.

Menurut Agus, salah satu kendala utama adalah keterbatasan anggaran kegiatan sehingga sasaran pendidikan pengawasan partisipatif belum dapat menjangkau lebih banyak pemilih pemula.

“Belum maksimal karena sasarannya masih segelintir pemilih pemula akibat minimnya pendanaan kegiatan,” kata Agus.

Meski demikian, Bawaslu terus mencari terobosan dengan menggandeng pihak sekolah agar program sosialisasi dapat berjalan tanpa membebani anggaran besar.

Agus mengungkapkan, pada kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif yang akan digelar 11 Juli mendatang, jumlah peserta masih sangat terbatas, yakni hanya 16 siswa dari total 20 peserta.

Karena itu, pihaknya menilai kolaborasi berkelanjutan dengan sekolah serta masifnya edukasi melalui media sosial menjadi solusi penting untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam pengawasan demokrasi.

“Kalau hanya mengandalkan kegiatan dari Bawaslu yang setahun sekali tentu belum cukup. Maka sosialisasi ke sekolah-sekolah dan media sosial harus terus diperkuat,” pungkas Agus.(nh)